Sabtu, 20 Juni 2009

Pembangunan Johar Harus Memperhatikan Aspek Historis dan Lingkungan


Di dalam pembangunan sebuah kota, selalu ada sesuatu yang diubah atau bahkan mungkin dihilangkan. Seperti Pembangunan Kota Semarang yang merencanakan revitalisasi kawasan johar. Kawasan Johar merupakan kawasan cagar budaya (peninggalan sejarah kota Semarang) termasuk didalamnya Masjid Kauman dan Gereja Blenduk. Tetapi saat ini, kawasan Johar kondisinya sudah mulai tak terawat seperti adanya pemukiman kumuh, macet, sampah dimana-mana, ditambah lagi dengan adanya rob yang terus menghantui.
Johar dibangun oleh Herman Thomas Karsten, arsitek yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Biro Pembangunan Mclaine Point pada Pemerintah Kolonial Belanda di Semarang pada tahun 1937 (http://wisatamelayu.com/id/opinion-12-pasar-johar-kampung-pedagang.html.Mei 2008) yang hingga kini bentuk aslinya masih tetap dipertahankan.
Adanya isu-isu akan dibangunnya mal-mal di kawasan johar ini mengundang reaksi banyak pihak. Kebanyakan reaksinya menolak pembangunan mal. Dengan pembangunan mal dan kawasan elite perkotaan lainnya, kawasan johar(di kota lama Semarang) lama-kelamaan akan berubah menjadi kawasan modern dan kehilangan nilai-nilai historisnya. Selain itu, pembangunan mal-mal akan semakin merusak lingkungan di kawasan Johar. Contohnya akan semakin banyak pohon-pohon yang ditebang, dan untuk memperoleh air mal-mal tersebut pasti akan mengambil air bawah tanah sehingga akan semakin memperparahrob di Kota Semarang(Budihardjo, Eko."Mal di Johar Perburuk Lingkungan", dalam http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0605/16/jateng/35717.htm.Mei 2006).
Saran saya pembangunan kawasan Johar harus tetap mempertahankan aspek historis dan lingkungan seperti tidak membangun mal dan gedung-gedung bertingkat lainnya, tetap mempertahankan bangunan-bangunan asli kawasan Johar, dan tidak menebang pohon di sekitar kawasan Johar.